Hari tak selalu baik
Berangkat dari rumah jam 7.30 WIB, perasaan sudah agak nggak enak.
sampai stasion Bogor, beli tiket di peron, tanya lintasan kereta nomor berapa yg berangkat ke sipir penjaga. Ternyata kereta tinggal satu yg akan berangkat. Naik ke gerbong, Masya Alloh udah penuh… dan ketika Tas di pundak dipindah ke depan.. Astagfirulloh, sletingnya udah kebuka. Dompet hilang!
Untung masih ada sisa uang di saku celana. Hhhhh, mudah-mudahan uang yg di dompet lebih bisa dimanfaatkan oleh sang copet.
Masih dongkol di hati, eh, salah turun di stasion Universitas Pancasila, harusnya turun di tanjung Barat. Uang di saku cuman pas buat pulang ke bogor… terpaksa jalan kaki ke Arkadia.
Alhamdulillah, sampai juga…
—end of the end—
Curhat_aja |3 Responses to “Hari tak selalu baik”
Leave a Reply
hmmm, i’ts a pity Bung Adam. Namanya musibah memang tidak diduga-duga. Ngomong2 status d fs, Sy dah memutuskan untuk tidak mengharapkan lagi, tidak ada kejelasan, Bung Adam.
hmmm, i’ts a pity Bung Adam. Namanya musibah memang tidak diduga-duga. Ngomong2 status d fs, masih berhubungan dengan musibah saya juga. Sy dah memutuskan untuk tidak mengharapkan lagi, tidak ada kejelasan, Bung Adam…
nuhun bung faryz… tapi, kenapa berhenti berharap?