Dongeng sebelum bobo

March 20th, 2007

Keledai pembawa garam

Pada suatu hari di musim panas, tampak seekor keledai berjalan di pegunungan. Keledai itu membawa beberapa karung berisi garam dipunggungnya. Karung itu sangat berat, sementara matahari bersinar dengan teriknya. "Aduh panas sekali. Sepertinya aku sudah tidak kuat berjalan lagi," kata keledai. Di depan sana, tampak sebuah sungai. "Ah, ada sungai! Lebih baik aku berhenti sebentar," kata keledai dengan gembira. Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke dalam sungai dan….

Byuur… Keledai itu terpeleset dan tercebur. Ia berusaha untuk berdiri kembali, tetapi tidak berhasil. Lama sekali keledai berusaha untuk berdiri. Anehnya, semakin lama berada di dalam air, ia merasakan beban dipunggungnya semakin ringan. Akhirnya keledai itu bisa berdiri lagi. "Ya ampun, garamnya habis!" kata tuannya dengan marah. "Oh, maaf… garamnya larut di dalam air ya?" kata keledai.

Beberapa hari kemudian, keledai mendapat tugas lagi untuk membawa garam. Seperti biasa, ia harus berjalan melewati pegunungan bersama tuannya. "Tak lama lagi akan ada sungai di depan sana," kata keledai dalam hati. Ketika berjalan menyeberangi sungai, keledai menjatuhkan dirinya dengan sengaja. Byuuur…. Tentu saja garam yang ada dipunggungnya menjadi larut di dalam air. Bebannya menjadi ringan. "Asyik! Jadi ringan!" kata keledai ringan. Namun, mengetahui keledai melakukan hal itu dengan sengaja, tuannya menjadi marah. "Dasar keledai malas!" kata tuannya dengan geram.

Keesokan harinya, keledai mendapat tugas membawa kapas. Sekali lagi, ia berjalan bersama tuannya melewati pegunungan. Ketika sampai di sungai, lagi-lagi keledai menjatuhkan diri dengan sengaja. Byuuur…. Namun apa yang terjadi ? Muatannya menjadi berat sekali. Rupanya kapas itu menyerap air dan menjadi seberat batu. Mau tidak mau, keledai harus terus berjalan dengan beban yang ada dipunggungnya. Keledai berjalan sempoyongan di bawah terik matahari sambil membawa beban berat dipunggungnya.

Moral : Berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Karena tindakan yang salah akan menyebabkan kerugian bagi kita.

Sumber : Elexmedia
diambil dari : http://naila.rad.net.id/




3 Responses to “Dongeng sebelum bobo”

  1.   byan on March 21, 2007 7:30 pm

    iyaaa setuju…:)….kadang kita bertindak memakai emosi tanpa berpikir…ketika sudah terjadi hanya penyesalan yang tertinggal..padahal waktu gak mungkin bisa diulang ya bukan?kang ramdhan…:)…heheheehe..:)

    wass…

  2.   Ramdhan on March 25, 2007 5:50 pm

    heuheu… ada penyesalan yg datang dari awal.. yaitu menuntun kambing dari depan terus diseruduk… (garing ya… bodor sunda di indonesiakan yeuh ceritanya mah).. ;p

  3.   MasBayu on March 27, 2007 7:46 am

    waah… salah itu bung, pesan moralnya, belajarlah membedakan mana yang berat mana yang ringan…

    lha kan kapas jauh lebih ringan daripada garam? mau aja bung adam diboongin….

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind