NEMU (sebuah skrip tanpa si)

August 14th, 2005

(Latar : diatas jembatan penyebrangan sebuah stasiun kereta api)

Narator:

Suara rel yang bergesekan dengan roda kereta mengingatkan aku pada suatu kisah lucu, membingungkan, dan tak bisa dipercaya kalau saja tak kualami sendiri.

Lucu karena semuanya begitu tiba-tiba, terjadi disaat dunia seakan-akan telah menghimpitku, namun ternyata ada bulan yang ingin ikut menindih tubuhku. Untungnya bulan itu indah dan mau memberikan sinarnya untuk disimpan didadaku

Membingungkan karena seluruh kisah ini akan menentukan masa depan kehidupanku, tak bisa dipercaya karena begini kisahnya :

Aku adalah mahasiswa berkasus di suatu perguruan tinggi kota Bandung. tak banyak yang bisa diceritakan dikehidupanku yang telah lalu. Seorang introvert, pendiam, egois, namun beruntung aku memiliki keluarga dan teman-teman yang mengerti sifat buruk itu.

Teman-teman seangkatan telah banyak yang lulus, bekerja mapan, malah ada yang sudah beristri dengan satu anak yang lucu. ah… tapi tak penting untuk kuceritakan lebih detail.

Hari itu, bimbingan tugas akhir terasa amat menyebalkan, tulisanku dikritik habis-habisan oleh dosen pembimbingku, tidak sistematiklah katanya, mirip tulisan anak SD lah, dsb dsb… bikin sakit hati.. (padahal semalaman suntuk ku persiapkan draft tulisan itu). akhirnya aku divonis, tak bisa lulus di acara wisuda mendatang.

Hancur deh harapan untuk bisa membahagiakan ortu. Trrttt trrttrtrttt, getaran HPku mengejutkan lamunan dan langkah gontai sehabis keluar dari ruangan dosen pembimbing. Ada SMS dari Wanda, seorang gadis yang lama telah berhubungan tanpa status denganku. Kami kenal semenjak SMA, semenjak SMA juga aku suka pada pribadinya yang bersahaja. Kini dia telah menjadi pegawai di instansi pemerintah yang terletak disuatu desa di kabupaten Garut. isi SMSnya sbb : " hai, apa kabar?, maap mengganggu. sy sedang dalam keadaan bimbang, ada seorg perwira yg melakukan pdkt, menurut kamu sebaiknya sy gimana?".

SICK… DAMN… WHAT THE HELL… (makian ku dalam hati) sungguh bukan kabar yang baik!! HHHhhh, dengan lunglai aku duduk di bangku kayu yg ada di depan pelataran gedung. sekali lagi kubaca pesan di HPku. Setelah dibolak-balik 3x kubaca, berat hati untuk membalas sms itu, namun pertimbangan logika mengatakan, sudahlah, lepaskan dia bila kau benar-benar cinta. Bersamaku dia tak mungkin bisa mendapat kepastian… at least buat jangka waktu 5 tahun kedepan, belum ada yg bisa kujanjikan.

Dan, sms itu aku balas juga… : " Wanda, saya sarankan terimalah dia."  sebuah pesan yg singkat jelas dan menyakitkan. Yahhh… Tuhan, semoga dia bahagia. yups…. boys dont cry, boys dont cry… boys do cry … (rintihku berulang kali).

Lalu, seorang teman datang mendekat… Darmawan namanya, dia bijak dan selalu enak untuk diajak berdiskusi sehari-hari. "kenapa kok wajah kamu kusut begitu?" tanya dia. " Saya tadi habis menghadap dosen pembimbing, dan ternyata tulisan saya masih jelek!" jawabku lirih. " ohh, begitu ya, jadi nggak bisa ikut wisuda bulan depan donk !" seru darmawan, " udahlah, masih ada wisuda berikutnya, jangan terlalu dipikirkan… lebih baik kamu menyegarkan pikiranmu dulu sekarang" lanjut dia. "mungkin kamu bisa berekreasi dulu, cari suasana baru… barang seminggu atau dua minggu, setelah pikiranmu fresh, baru lanjutkanlah tugas akhirmu…!! " demikian saran yang dia sampaikan padaku. bla bla bla… kamipun bercakap-cakap lama, nasehat-nasehatnya tentang cara menghadapi masalah sedikit-banyak bisa membuatku bangkit sejenak dari kepenatan yang ada.

Yahhhhh, berlibur. kuputuskan untuk berlibur saja dahulu, kemana yaaa…?! oh, yah, di Jogya ada adikku, dia kuliah di Universitas terkemuka disana. Ke jogya saja, ongkosnya tak terlalu mahal, dan banyak objek wisata yang bisa dikunjungi, gumamku!!.

Hari itu juga aku pulang ke rumah, dan berkemas untuk perjalanan wisata sederhana, dalam rangka melarikan diri dari rasa penat dan pusing di rutinitas kota Bandung. Ibuku yg baru pulang mengajar heran, kenapa aku berkemas baju. dia bertanya mau kemana???. Aku mau mengunjungi adik di jogya jawabku. Kok begitu tiba-tiba, bagaimana kuliahmu??? beliau kembali bertanya. Aku jelaskan padanya bahwa ada sedikit masalah dalam penyelesaian tugas akhirku, dan sepertinya janjiku untuk lulus bulan depan tak bisa kutepati. mungkin di wisuda berikutnya aku baru bisa diwisuda. Syukurlah ibuku bisa mengerti keadaanku, dan mengizinkan aku untuk bepergian ke kota jogya.

Sore telah tiba, Ayahku yang baru pulang dari kerja juga menanyakan hal yang sama dengan apa yg ibuku tanyakan tadi. Beliau lalu menyampaikan sepatah-dua patah kata wejangan untuk jangan membiasakan diri lari dari permasalahan yang ada. "Jadi kapan berangkat, dan mau naik apa??" tanya ayah sambil mengeluarkan selembar uang 100rb dan diberikannya padaku. " Malam ini pak, mau naik kereta ekonomi saja di kiara condong!" jawab aku.

Malamnya, setelah selesai makan malam bersama ayah-ibu, aku pamit untuk berangkat. Jarak rumahku ke stasiun kereta api lumayan jauh, tapi bisa dijangkau dengan sekali naik Angkot. sepanjang perjalanan angkot aku bergumam, mudah-mudahan aku bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada… semoga juga jogya bisa menghibur kesedihan diri, Pokoknya aku harus bersenang-senang di sana!!! eitss.. kiri mang.. Kircon kiriii

Stasiun kereta nampak agak lenggang, maklumlah, saat itu bukan musim liburan, dan hari selasa lagi… wajar kalau orang-orang jarang yang bepergian keluar kota. Sesampainya di Peron aku pesan tiket kereta kelas ekonomi jurusan Lempuyangan. Kahuripan, yah.. nama keretanya, kahuripan… "Pesan yang ada nomor tempat duduknya yah pak!" seruku pada penjaga peron. " Tenang dek, banyak bangku yang kosong kok, adek nanti tinggal pilih aja di dalam!" sahutnya. " Tapi buat jaga-jaga aja pak… tolong minta nomor tempat duduknya ya!", jawabku lagi. " Baiklah.. jadi ongkosnya 27 setengah!", srt srttt kuambil tiket dan uang kembalian dari bapak peron, dan transaksi pun selesai.

Kereta kahuripan, sudah menunggu di jalur rel. Aku langsung masuk menuju gerbong dengan nomor yg tertera di tiket punyaku. gerbong 1 nomor tempat duduk 4B. lho, dengan hati-hati ku lihat lagi nomor di tiket dan tempat duduk yg ada di hadapanku, setelah yakin lalu aku berkata  " Maap Pak, ini tempat duduk saya…!!" sela ku pada bapak-bapak yang sedang berselonjor kaki tidur di bangku yang seharusnya jadi tempat dudukku. " O alah mas.. mas.. kayak nggak pernah naik kereta ekonomi aja..!, tuhh di belakang masih banyak yang kosong" serunya dengan nada suara yang tinggi, mungkin dia terganggu karena aku membangunkan tidurnya. HHHHhhhh, masalahku sudah cukup banyak hari ini, daripada ribut-ribut dengannya lebih baik aku mengalah. Dengan perasaan yang amsih dongkol, ku susuri gerbong hingga gerbong yg paling akhir… Disini saja.. kosong, sepi, lebih enak… kataku menghibur diri.

Gerbong terakhir itu memang sepi, hanya ada kira-kira 10 orang, itu pun duduknya terpencar-pencar. Aku memilih tempat duduk yang agak di tengah, di bangku yang benar-benar kosong, depanku bangku kosong, disampingku juga bangku yang kosong… wuihhh serasa gerbong milik sendiri….!! ;p

Sekira pukul 8.00 kereta mulai bergerak.. selamat tinggal bandung, aku akan pergi untuk kembali… percayalah bisikku pelan. perlahan kereta kahuripan merayap di gelapnya malam.

Kaca jendela yang kusam dan retak akibat bekas lemparan batu, tak menghalangi kesyahduan pemandangan malam hari diluar. garis-garis pepohonan dan tiang listrik yang terlewati sedikit menghibur gundah diri. Jam berlalu, sudah pukul 10.00 malam, rasa kantuk mulai mendera. aku pun tidur lelapppp.

Hingga…… Drrrrrrrrrrd, teeeeeettttttttttttt suara kereta bisnis yang lewat kearah barat membangunkanku. Yahhh, beginilah nasib kereta ekonomi, harus mendahulukan kereta yang lebih elite dulu untuk lewat, jadi banyak berhenti di stasiun-stasiun persinggahan. Lalu  kulihat jam di HP ku, sudah jam 01.30 pagi, wah… tak terasa, wwuuuuuaaahhh, sambil menguap kuperhatikan disekeliling, kupandangi luar jendela, Kroya… oh, stasiun kroya, berarti aku sudah berada di kawasan jawa tengah. suasana gerbong itu masih tampak sepi, bangku-bangku kosong itu tetap menemaniku. Kereta berhenti agak lama, yah… daripada kesal menunggu mendingan tidur lagi.

Hmmm, ngantuknya !! eh, tiba-tiba terdengar suara langkah rombongan penumpang yang baru naik. wah, semoga mereka tak memilih bangku disampingku..(doaku dalam hati) aku paling males kalo diajak mengobrol sama penumpang lain. Apalagi kalau menggunakan bahasa jawa… mana ngerti!! :( Ternyata doaku ditolak, hhhh, yah mungkin Tuhan berkehendak lain, atau aku yg kurang beramal baik??!! (gerutu hati).

Seorang bapak setengah baya yg menggunakan blangkon menepuk bahuku. "permisi dek, bangkunya kosong??" tanya dia ramah. wahh sempat terpikir utk berbuat yang sama dengan bapak tadi yang menghardikku untuk mencari bangku lain. Tapi ngak enak perasaan githu…. nggak sopan, takut kuwalat, nanti malah dapet pengalamat yang tidak menyenangkan di jogya. Akhirnya dengan senyum yang dipaksakan :"oh, iyah pak.. silahkan, bangkunya kosong kok.!" jawabku. " Nggeh, terima kasih !" dia pun duduk di sampingku, ternyata rombongan itu berjumlah 5 orang. di hadapanku duduk dua orang wanita berkebaya. Seorang nenek tua, bersama gadis muda. dan dua orang bapak yang berpeci mengambil bangku kosong di bangku sebelah. Wahhh… kayaknya rombongan tayub.. pikirku.

Jgggjegggg jeggg…. kereta mulai berangkat lagi, Si gadis yang duduk dihadapanku tertunduk terus memandang tangannya. Si nenek tua memandangi wajahku dengan tatapan yang aneh. Ah, menakutkan. kualihkan saja pandanganku ke luar jendela.. Lalu bapak yang duduk disebelahku memulai pembicaraan.. " Mbah…??" katanya kearah si nenek. si nenek mengangguk pelan. wah, nggak ngerti deh… dua orang lelaki yang duduk di bangku sebelahku pun mulai menatap ke arahku. "Hmmm, dek… boleh saya tanya sesuatu!!??" kata si bapak yang berblangkon. "oh, iyah pak, ada apa??" jawabku penasaran. "Adek seorang mahasiwa bukan?!" tanyanya lagi "saya memang seorang mahasiswa, tapi sekarang saya sedang berlibur pak!" seru ku pelan, " wah, sungguh beruntung adek ini!?"  beruntung??? Hhh, yah beruntung apanya, yg pasti mah bingung kataku dalam hati, " beruntung kenapa yah pak???!" tanyaku padanya. " begini, adek beruntung bisa mengalami masa kuliah.. tidak seperti kami-kami ini, yang hanya bisa tamat SR saja, malah ibu ini dan cucunya ndak sekolah sama sekali, jadi nggak bisa baca dan tulis". ujar si bapak menjelaskan.

Aku terenyuh dengan penjelasan si bapak tadi. Yah… memang realitas pendidikan di negara kita ini tidak seindah apa yang disebutkan di pembukaan UUD-45… mencerdaskan kehidupan bangsa??? hehhh… ternyata masih ada yang buta aksara, cibirku dalam hati.

"Oh, yah dek, kalau adek tak keberatan. bisakah adek membantu membacakan surat ini?" pinta si bapak, sambil merogoh ke saku bajunya, dan mengeluarkan secarik kertas. Lho, ujarku "kenapa pak, apakah bapak tidak bisa membacanya?!" tanyaku.. " oh, tidak, cuma untuk meyakinkan saja tentang isinya, karena malam terlalu gelap, mata bapak sudah tak kentara lagi, tolong bacakan sebentar, isinya sangat penting bagi kami!" kata si bapak.. "Oh, mari pak biar saya bacakan isinya"… karena kasihan, mungkin isinya adalah alamat suatu tempat yang mereka tuju..

Karena suasana gerbong yang gelap, kugunakan lampu di HP ku untuk menerangi kertas itu. ternyata tulisan di kertas itu adalah tulisan tangan dengan huruf bersambung, dan berbahasa jawa lagi….. wahhhh payahhh nih, tapi kubaca juga isi surat itu dengan terbata-bata…

Selesai membaca surat, si bapak bertanya, "benarkah yang kau baca itu??!", karena malas membaca ulang lagi, akupun menjawab betul pak. Lalu si bapak menoleh ke arah bangku sebelah, dan dua orang bapak berpeci itu menganggukkan kepala sambil mengucapkan kata-kata "Sah.. Sah.."

——->>>> flash back
sekarang  aku tahu isi surat itu berbunyi kurang lebih sbb: "Saya terima nikahnya Nemu binti Jamikarsih dengan maskawin mengajarkan membaca dan menulis"

——->>>>> back to the story

Si bapak pun kemudian mengangkat kedua tangannya mengucap doa-doa dengan diamini kedua bapak yang berpeci, aku melongo heran. Belum habis heran itu, bapak berblangkon itu, menyalami aku,  lalu menaruh telapak tanganku di atas tangan sang gadis. Aku yang terkejut dan langsung menarik tanganku, setelah itu si bapak mengucapkan terima kasih dan mengambil kembali carik kertas yang baru kubacakan. Tak terasa laju kereta menjadi pelan, di benakku masih tertumpuk heran, ada apa gerangan?. Ternyata tak lama setelah itu, di sebuah stasiun kecil yang kulupa namanya, kereta berhenti. Lalu rombongan itu berdiri kecuali si gadis, untuk bersiap-siap turun.

bersambung………




5 Responses to “NEMU (sebuah skrip tanpa si)”

  1.   sabdo on August 15, 2005 5:43 pm

    hehe tak sabar menunggu sambungannya, jadi pengen ikut nulis sesuatu juga nih

  2.   aapenggugahjiwa on August 17, 2005 5:50 pm

    well… not two thombs up..
    but quite OK… lanjutannya manna???

  3.   Yadi on August 20, 2005 9:01 pm

    D*MN F**KING SH*T… nanggung banget dah…. lanjutannya mang!!!!! hehehehe

  4.   ' ' u L L y ' ' on August 26, 2005 8:09 am

    saya belum sempat baca….aduh gimana ya??

  5.   ' ' u L L y ' ' on August 31, 2005 7:15 am

    saya tersenyum melihat kegelian cerita ini. Salut….

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind