Nemu II (Gadis satu bahasa)
Narator:
Manusia adalah takdir yang berjalan…
bahasa adalah salah satu penghantarnya…
beruntunglah orang-orang yang dapat mengerti semua bahasa…
—-> the story continue
Senyap, kereta berhenti juga… Bapak itu pamit, " mari nak, kami sudah sampai tujuan!" katanya, dalam kebingungan kuberanikan bertanya, "Pak, mbak ini nggak ikut turun ya..???!!" .." Nak, sekarang gadis ini akan pergi kemana pun kau pergi." jawabnya tegas dengan raut senyuman menyejukkan. Bapak-bapak itu turun dengan menuntun nenek tua yang terisak menangis serak. Langkah mereka cepat menuju pintu keluar. Gadis dihadapanku pun terdengar meringis namun dia tak menoleh sedikitpun pada rombongan bapak dan nenek yang sudah turun dari kereta.
Peluit stasiun tanda pemberangkatan sudah ditiup, keretapun kembali berderu melaju meneruskan perjalanan. Aku tetap tak tahu adegan apa yang baru terjadi antara aku, bapak-bapak tadi, si nenek dan gadis yg sedang duduk dengan kepala tertunduk dihadapanku. Malam sudah terlalu larut, otak ini sudah tak bisa diajak untuk berpikir. Sikapku untuk kejadian tadi, acuh tak acuh, peduli apa… bukan urusanku!! buat apa memikirkan rombongan aneh yang meninggalkan seorang gadis sendiri di kereta api. Aku lelah, aku perlu tidur.. aku tak perduli…..
Fajar mulai terlihat, tidurku sudah tak sanggup menyembunyikan gadis berkebaya dihadapanku itu. Dengan rasa berat, kelopak mata coba kubuka. Ternyata gadis itu tertidur pulas, wajahnya bersih, tampak bersedih, lembam kelopak bawah matanya, dengan berpangku pada kedua tangannya dia tertidur. Ah, entah darimana muncul rasa iba, dan akupun mulai me’reka-reka skenario apa yang mungkin tengah dialaminya.
Pertama, mungkin si gadis ini disuruh datang ke kota jogja (tempat tujuanku juga) untuk belajar. Kedua, mungkin si gadis ini mau mengunjungi sanak saudaranya di kota Jogja. Ketiga, si gadis telah berbuat kesalahan yang fatal, sehingga diusir oleh paman dan neneknya. Ke empat, mungkin dia dijodohkan denganku… heuheuheu… lucu juga kalo beneran begitu, mereka pikir aku akan tertarik pada gadis desa seperti dia,"No way lah" lagipula aku sudah punya tambatan hati nun jauh disana (walaupun dia mungkin saat ini sudah bahagia bersama seorang perwira-hiks hikss piluu) eh.. skenario ke-5, mungkin dia adalah anggota gerombolan penipu, yang mau menguras harta bendaku, Heiii .. ya..!!! di kereta banyak terjadi tindak penipuan dengan berbagai modus operandi. Rombongan tadi itu mungkin saja komplotan penjahat yang mau mencuri dariku. Hahhh, praduga buruk itu mulai menguasaiku. Aku lalu berdiri refleks, dan mengambil tas yang ada diatas rak penyimpanan kereta, dengan sigap kubuka resleting tasku, kulihat barang-barang bawaanku. dompetku yang biasanya kusimpan dalam tas untunglah masih ada disana. Kubuka dompet itu, dan syukurlah isinya masih utuh. Nafasku memburu kencang, mungkin bunyinya terlalu jelas sehingga membangunkan gadis yang tertidur itu.
Mata sayunya mulai terbuka. Jari tangannya yang kecil mengusap wajah dan berkali-kali menggosok matanya. dengan senyum malu dia menatap heran padaku. Mungkin aneh melihat tingkahku yang mendekap tas dengan sangat erat. Tatapan itu membuatku layu, "masa aku mencurigai gadis polos ini sebagai seorang penjahat" kataku dalam hati. Lalu denga tersipu aku berujar " Maaf mbak, saya sudah membuat mbak terbangun!". Dia tersenyum dan mengangguk. AKu pun berdiri dan menempatkan kembali tas di rak tempat barang. Hari mulai terang dan kereta sudah memasuki daerah Wates, sekitar 45 menit lagi sampai di kota Jogja. Sebagai basa-basi aku coba memulai pembicaraan ;
"Mbak, mau ke kota Jogja ya?!" tanyaku
" Nggeh, mas!" Jawabnya
wah.. kosakata bahasa jawaku sangatlah terbatas, tapi kalau nggak salah "nggeh" itu artinya mengiyakan.
"mbak ada keperluan apa disana??!" tanyaku lagi
"nggeh?!" dia mengangguk sekali, rupanya pertanyaanku tak begitu jelas terhalang gemuruh suara kereta menderu-deru.
Lalu aku bertanya lagi " Mbak mau ada perlu apa di Jogja, Sekolah ya??!!" kataku menebak
"Nggeh mas" jawabnya lagi.
Setelah itu setiap pertanyaanku selalu diiyakan olehnya. Gadis yang aneh, pikirku.
Teeeeetttttttttt, stasiun Tugu sudah terlewati, aku berdiri untuk bersiap-siap turun. "Mbak, kita sudah hampir sampai di Lempuyangan nih., mbak mau turun disana juga khan??!" kataku sambil memasang tas di punggungku. lagi-lagi dia menjawab "nggeh". "kalau begitu mari kita bersiap untuk turun, ayo kemasi barangnya mbak!" kataku sambil menunjuk/memberi isyarat untuk membawa tas keresek hitam dan kardus kecil yang tadi malam dibawa olehnya. Karena kardus itu tampak berat, kubantu membawanya , "Yuk!" ajakku untuk mendekati pintu keluar gerbong. Dan tak lama kemudian kereta pun berhenti di stasiun Lempuyangan.
Aku turun, diapun turun. Karena merasa tugasku untuk menemaninya sudah cukup, aku tinggalkan kardus punya gadis itu di dekat peron keluar. "Sampai ketemu yah mbak, saya mau ke mushola dulu untuk sholat" kataku sambil tersenyum dan pergi dengan melambaikan tangan padanya. Diapun terdiam, dalam hatiku berbisik kenapa dia tak segera beranjak pergi. Ah, sudahlah aku sudah terlambat untuk sholat subuh, Toh masalah penjemputan dia bukan urusanku.
Selesai sholat, di pelataran mushola dengan santai ku duduk-duduk sembari mencari alamat adikku dalam buku agenda yg selalu kubawa. Tiba-tiba ada bayangan mendekat dari arah belakang, kutengok kebelakang, ternyata si gadis tadi datang dengan ujung rambut yang masih basah bekas wudhu (rupanya dia habis sembahyang juga). "belum ada yang ngejemput mbak??" tanyaku padanya… "nggeh"… waduhhhh nggek lagih nggeh lagih!!!! jangan-jangan dia tak bisa berbahasa Indonesia nih.. pikirku mulai curiga.
Di pelataran mushola itu juga ada seorang bapak-bapak dengan handuk yang diselendangkan di bahu (dia seorang tukang becak), bapak itu sedang rebahan habis solat juga. Dengan rasa penasaran kudekati dia dan coba cari pertolongan untuk menjadi penterjemah bahasa jawa.
"Pak, maap mengganggu… apakah bapak mengerti bahasa indonesia??" sapa ku pada si bapak.
" Lah… mas ini mau menghina, apa ???.. yah tentu bisa donk mas, wong aku ini lahir di Indonesia… bahasa inggris saja aku bisa!!" dengan sewot dia bangun dari rebahannya.
"Oh, maap bukan maksud saya mau menghina pak… , kalo bahasa jawa bisa!???" sahutku tertawa kecil tanda bercanda.
" O alahhh mass. mass… apalagi bahasa jawa… jawa kasar, jawa halus, jawa barat ???…. emangnya kenapa sih tanya-tanya sgala???
" Hehe.. ini pak.. bis atolong bicara sama mbak yang sedang berdiri disana itu… tolong tanyakan dia mau kemana.?? kami kemarin satu kereta, dan saya rasa dia tidak bisa bahasa indonesia… kasihan kalau dia saya tinggalkan sendiri pak, dia tidak ada yang ngejemput… saya sih mau pergi ke rumah adik saya di daerah kaliurang…"
Bapak itu lalu bangkit berdiri "boleh, boleh.. tapi nanti naik beca saya aja yah ke kaliurangnya!??" katanya
"Baik pak.. asal ongkosnya jangan dikasih yang mahal.. mahal ya!!" jawabku setuju
Lalu aku dan si bapak mendekati si gadis….. kemudian terdengar mereka bercakap-cakap dalam bahasa jawa… tak lama mereka bercakap.. si bapak itu mengernyitkan dahinya dan berseru padaku " O alah mass masss kok sama istri sendiri lupa sihhhh??????????"
Haaaaaaaaaaaaaaaaaaa a a a??? istri…………, istri apaan???????????
Bersambung…
Uncategorized |2 Responses to “Nemu II (Gadis satu bahasa)”
Leave a Reply
haduh…. pusing !!! ^_^
lho…he???