Nemu II (Gadis satu bahasa)
Narator:
Manusia adalah takdir yang berjalan…
bahasa adalah salah satu penghantarnya…
beruntunglah orang-orang yang dapat mengerti semua bahasa…
—-> the story continue
Senyap, kereta berhenti juga… Bapak itu pamit, " mari nak, kami sudah sampai tujuan!" katanya, dalam kebingungan kuberanikan bertanya, "Pak, mbak ini nggak ikut turun ya..???!!" .." Nak, sekarang gadis ini akan pergi kemana pun kau pergi." jawabnya tegas dengan raut senyuman menyejukkan. Bapak-bapak itu turun dengan menuntun nenek tua yang terisak menangis serak. Langkah mereka cepat menuju pintu keluar. Gadis dihadapanku pun terdengar meringis namun dia tak menoleh sedikitpun pada rombongan bapak dan nenek yang sudah turun dari kereta.
Peluit stasiun tanda pemberangkatan sudah ditiup, keretapun kembali berderu melaju meneruskan perjalanan. Aku tetap tak tahu adegan apa yang baru terjadi antara aku, bapak-bapak tadi, si nenek dan gadis yg sedang duduk dengan kepala tertunduk dihadapanku. Malam sudah terlalu larut, otak ini sudah tak bisa diajak untuk berpikir. Sikapku untuk kejadian tadi, acuh tak acuh, peduli apa… bukan urusanku!! buat apa memikirkan rombongan aneh yang meninggalkan seorang gadis sendiri di kereta api. Aku lelah, aku perlu tidur.. aku tak perduli…..
Fajar mulai terlihat, tidurku sudah tak sanggup menyembunyikan gadis berkebaya dihadapanku itu. Dengan rasa berat, kelopak mata coba kubuka. Ternyata gadis itu tertidur pulas, wajahnya bersih, tampak bersedih, lembam kelopak bawah matanya, dengan berpangku pada kedua tangannya dia tertidur. Ah, entah darimana muncul rasa iba, dan akupun mulai me’reka-reka skenario apa yang mungkin tengah dialaminya.
Pertama, mungkin si gadis ini disuruh datang ke kota jogja (tempat tujuanku juga) untuk belajar. Kedua, mungkin si gadis ini mau mengunjungi sanak saudaranya di kota Jogja. Ketiga, si gadis telah berbuat kesalahan yang fatal, sehingga diusir oleh paman dan neneknya. Ke empat, mungkin dia dijodohkan denganku… heuheuheu… lucu juga kalo beneran begitu, mereka pikir aku akan tertarik pada gadis desa seperti dia,"No way lah" lagipula aku sudah punya tambatan hati nun jauh disana (walaupun dia mungkin saat ini sudah bahagia bersama seorang perwira-hiks hikss piluu) eh.. skenario ke-5, mungkin dia adalah anggota gerombolan penipu, yang mau menguras harta bendaku, Heiii .. ya..!!! di kereta banyak terjadi tindak penipuan dengan berbagai modus operandi. Rombongan tadi itu mungkin saja komplotan penjahat yang mau mencuri dariku. Hahhh, praduga buruk itu mulai menguasaiku. Aku lalu berdiri refleks, dan mengambil tas yang ada diatas rak penyimpanan kereta, dengan sigap kubuka resleting tasku, kulihat barang-barang bawaanku. dompetku yang biasanya kusimpan dalam tas untunglah masih ada disana. Kubuka dompet itu, dan syukurlah isinya masih utuh. Nafasku memburu kencang, mungkin bunyinya terlalu jelas sehingga membangunkan gadis yang tertidur itu.
Mata sayunya mulai terbuka. Jari tangannya yang kecil mengusap wajah dan berkali-kali menggosok matanya. dengan senyum malu dia menatap heran padaku. Mungkin aneh melihat tingkahku yang mendekap tas dengan sangat erat. Tatapan itu membuatku layu, "masa aku mencurigai gadis polos ini sebagai seorang penjahat" kataku dalam hati. Lalu denga tersipu aku berujar " Maaf mbak, saya sudah membuat mbak terbangun!". Dia tersenyum dan mengangguk. AKu pun berdiri dan menempatkan kembali tas di rak tempat barang. Hari mulai terang dan kereta sudah memasuki daerah Wates, sekitar 45 menit lagi sampai di kota Jogja. Sebagai basa-basi aku coba memulai pembicaraan ;
"Mbak, mau ke kota Jogja ya?!" tanyaku
" Nggeh, mas!" Jawabnya
wah.. kosakata bahasa jawaku sangatlah terbatas, tapi kalau nggak salah "nggeh" itu artinya mengiyakan.
"mbak ada keperluan apa disana??!" tanyaku lagi
"nggeh?!" dia mengangguk sekali, rupanya pertanyaanku tak begitu jelas terhalang gemuruh suara kereta menderu-deru.
Lalu aku bertanya lagi " Mbak mau ada perlu apa di Jogja, Sekolah ya??!!" kataku menebak
"Nggeh mas" jawabnya lagi.
Setelah itu setiap pertanyaanku selalu diiyakan olehnya. Gadis yang aneh, pikirku.
Teeeeetttttttttt, stasiun Tugu sudah terlewati, aku berdiri untuk bersiap-siap turun. "Mbak, kita sudah hampir sampai di Lempuyangan nih., mbak mau turun disana juga khan??!" kataku sambil memasang tas di punggungku. lagi-lagi dia menjawab "nggeh". "kalau begitu mari kita bersiap untuk turun, ayo kemasi barangnya mbak!" kataku sambil menunjuk/memberi isyarat untuk membawa tas keresek hitam dan kardus kecil yang tadi malam dibawa olehnya. Karena kardus itu tampak berat, kubantu membawanya , "Yuk!" ajakku untuk mendekati pintu keluar gerbong. Dan tak lama kemudian kereta pun berhenti di stasiun Lempuyangan.
Aku turun, diapun turun. Karena merasa tugasku untuk menemaninya sudah cukup, aku tinggalkan kardus punya gadis itu di dekat peron keluar. "Sampai ketemu yah mbak, saya mau ke mushola dulu untuk sholat" kataku sambil tersenyum dan pergi dengan melambaikan tangan padanya. Diapun terdiam, dalam hatiku berbisik kenapa dia tak segera beranjak pergi. Ah, sudahlah aku sudah terlambat untuk sholat subuh, Toh masalah penjemputan dia bukan urusanku.
Selesai sholat, di pelataran mushola dengan santai ku duduk-duduk sembari mencari alamat adikku dalam buku agenda yg selalu kubawa. Tiba-tiba ada bayangan mendekat dari arah belakang, kutengok kebelakang, ternyata si gadis tadi datang dengan ujung rambut yang masih basah bekas wudhu (rupanya dia habis sembahyang juga). "belum ada yang ngejemput mbak??" tanyaku padanya… "nggeh"… waduhhhh nggek lagih nggeh lagih!!!! jangan-jangan dia tak bisa berbahasa Indonesia nih.. pikirku mulai curiga.
Di pelataran mushola itu juga ada seorang bapak-bapak dengan handuk yang diselendangkan di bahu (dia seorang tukang becak), bapak itu sedang rebahan habis solat juga. Dengan rasa penasaran kudekati dia dan coba cari pertolongan untuk menjadi penterjemah bahasa jawa.
"Pak, maap mengganggu… apakah bapak mengerti bahasa indonesia??" sapa ku pada si bapak.
" Lah… mas ini mau menghina, apa ???.. yah tentu bisa donk mas, wong aku ini lahir di Indonesia… bahasa inggris saja aku bisa!!" dengan sewot dia bangun dari rebahannya.
"Oh, maap bukan maksud saya mau menghina pak… , kalo bahasa jawa bisa!???" sahutku tertawa kecil tanda bercanda.
" O alahhh mass. mass… apalagi bahasa jawa… jawa kasar, jawa halus, jawa barat ???…. emangnya kenapa sih tanya-tanya sgala???
" Hehe.. ini pak.. bis atolong bicara sama mbak yang sedang berdiri disana itu… tolong tanyakan dia mau kemana.?? kami kemarin satu kereta, dan saya rasa dia tidak bisa bahasa indonesia… kasihan kalau dia saya tinggalkan sendiri pak, dia tidak ada yang ngejemput… saya sih mau pergi ke rumah adik saya di daerah kaliurang…"
Bapak itu lalu bangkit berdiri "boleh, boleh.. tapi nanti naik beca saya aja yah ke kaliurangnya!??" katanya
"Baik pak.. asal ongkosnya jangan dikasih yang mahal.. mahal ya!!" jawabku setuju
Lalu aku dan si bapak mendekati si gadis….. kemudian terdengar mereka bercakap-cakap dalam bahasa jawa… tak lama mereka bercakap.. si bapak itu mengernyitkan dahinya dan berseru padaku " O alah mass masss kok sama istri sendiri lupa sihhhh??????????"
Haaaaaaaaaaaaaaaaaaa a a a??? istri…………, istri apaan???????????
Bersambung…
Uncategorized | Comments (2)sayang, kemana kau ketika aku sedang sidang
Sayang,
kemana kau ketika aku berdandan…
Siapa yang mengalungkan dasi ini…?
Cermin mana yang bisa kutanya rapihkah sudah???
Sayang,
aku tidur larut malam tadi, tanpa ada secangkir kopi
lalu tertidur sendiri.. di ruangan pa andri
sayang.
bacalah hati ini…
kemudian lipat yang rapi
tandai sekedar ciri….
bahwa kau akan datang kembali
sayang…..
dimana kamu saat aku tadi terpaku depan pintu 3106
menunggu. sepanjang lorong kosong…
kukira kau akan datang menemani,
namun sayang, kamu sayang aku khan???
<adam -selepas sidang>
Uncategorized | Comments (5)tiga hari perjaka senja
pertama, salemba…]
bundaran HI, dipenogoro… RS. Cipto Mangunkusumo, St. Carelous…
lalu, yang kedua…
bus kota, eks jepang yang tulisannya masih kanji hiragana
turun di belakang kantor fachry.
makan sarapan pagi, nasi pecel, bareng satpam dan pegawai sekitar gang senggol.
kaki lecet… tak terbiasa pake sepatu pesta.
selanjutnya, berjalan ke arah sarinah… cari halte busway
2500.. pertama masuk.. loketnya ada di luar, dikasih kartu, masukin lagi ke kotak aluminium.
asik… naik busway utk pertamakalinya…. banyak wanita-wanita cantik, berdandan rapi dan seksi (mau ketempat kerja yah… mbak!! -kata hati)
perberhentian berikutnya: gelora bung karno…. bundaran senayan
turun ajah disana… trus… jalan dehhh muter coloseum sekali… (mangkanya ada nama perjaka senja which mean: persatuan jalan kaki senayan jakarta)
pernah juga sendiri menapaki plasa senayan.. lihat-lihat yg nggak perlu
baru ke hotel mulia. Map Asia 2005….. sebuah propaganda, membuat industri pemetaan seakan-akan bisa merakyat… (padahalmah mereka si pemain besar aja yg bakal berjaya.. kayak industri koputer dan industri lainnya saat ini)
okeh… di hotel.. seperti di dunia maya…. jadi saya harus berpura-pura tidak punya mata. bahwa tadi pagi dijembatan penyebrangan ada gelandangan penuh borok sekujur tubuhnya tidur membujur.
dan… presentasipun dimulai… ternyata bukan hanya orang2 kita yang jamnya terbuat dari getah latex.
tapi yang pasti my presentation is scrawl. nanti di presentasi berikutnya (jika ada) i’ll be a better man.
ke bandung, ke bandung aku kan kembali walaupun apa yang terjadi…
disana rumahku… dekat pasar induk…..
disana kasihku… berdiri menunggu……
selamat yah tom… selamat yah gus….
Curhat_aja | Comments (4)Coba bikin Cerita Film ah…
Dear, all pren
Saya sedang lari dari kenyataan, disela-sela suntuk ngejar2 sidang… jadi ajah coba bikin cerita
Judulnya ; NEMU
mungkin ada beberapa orang yang sudah pernah mendengar cerita ini (krisna, ogiw, fas, sella, thesa, enal, asep) .
tapi kalo ada waktu.. baca lagi cerita nya di bawah ini ya ..;p
trims
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo tak sengguh penganten anyar
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu yo peneken kanggo mbasuh dodo dira
Dodo dira dodo dira kumitir bedah ing pinggir
Dondomana j'rumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane
Sun surak-ka surak hore...
Uncategorized | Comments (2)
NEMU (sebuah skrip tanpa si)
(Latar : diatas jembatan penyebrangan sebuah stasiun kereta api)
Narator:
Suara rel yang bergesekan dengan roda kereta mengingatkan aku pada suatu kisah lucu, membingungkan, dan tak bisa dipercaya kalau saja tak kualami sendiri.
Lucu karena semuanya begitu tiba-tiba, terjadi disaat dunia seakan-akan telah menghimpitku, namun ternyata ada bulan yang ingin ikut menindih tubuhku. Untungnya bulan itu indah dan mau memberikan sinarnya untuk disimpan didadaku
Membingungkan karena seluruh kisah ini akan menentukan masa depan kehidupanku, tak bisa dipercaya karena begini kisahnya :
Aku adalah mahasiswa berkasus di suatu perguruan tinggi kota Bandung. tak banyak yang bisa diceritakan dikehidupanku yang telah lalu. Seorang introvert, pendiam, egois, namun beruntung aku memiliki keluarga dan teman-teman yang mengerti sifat buruk itu.
Teman-teman seangkatan telah banyak yang lulus, bekerja mapan, malah ada yang sudah beristri dengan satu anak yang lucu. ah… tapi tak penting untuk kuceritakan lebih detail.
Hari itu, bimbingan tugas akhir terasa amat menyebalkan, tulisanku dikritik habis-habisan oleh dosen pembimbingku, tidak sistematiklah katanya, mirip tulisan anak SD lah, dsb dsb… bikin sakit hati.. (padahal semalaman suntuk ku persiapkan draft tulisan itu). akhirnya aku divonis, tak bisa lulus di acara wisuda mendatang.
Hancur deh harapan untuk bisa membahagiakan ortu. Trrttt trrttrtrttt, getaran HPku mengejutkan lamunan dan langkah gontai sehabis keluar dari ruangan dosen pembimbing. Ada SMS dari Wanda, seorang gadis yang lama telah berhubungan tanpa status denganku. Kami kenal semenjak SMA, semenjak SMA juga aku suka pada pribadinya yang bersahaja. Kini dia telah menjadi pegawai di instansi pemerintah yang terletak disuatu desa di kabupaten Garut. isi SMSnya sbb : " hai, apa kabar?, maap mengganggu. sy sedang dalam keadaan bimbang, ada seorg perwira yg melakukan pdkt, menurut kamu sebaiknya sy gimana?".
SICK… DAMN… WHAT THE HELL… (makian ku dalam hati) sungguh bukan kabar yang baik!! HHHhhh, dengan lunglai aku duduk di bangku kayu yg ada di depan pelataran gedung. sekali lagi kubaca pesan di HPku. Setelah dibolak-balik 3x kubaca, berat hati untuk membalas sms itu, namun pertimbangan logika mengatakan, sudahlah, lepaskan dia bila kau benar-benar cinta. Bersamaku dia tak mungkin bisa mendapat kepastian… at least buat jangka waktu 5 tahun kedepan, belum ada yg bisa kujanjikan.
Dan, sms itu aku balas juga… : " Wanda, saya sarankan terimalah dia." sebuah pesan yg singkat jelas dan menyakitkan. Yahhh… Tuhan, semoga dia bahagia. yups…. boys dont cry, boys dont cry… boys do cry … (rintihku berulang kali).
Lalu, seorang teman datang mendekat… Darmawan namanya, dia bijak dan selalu enak untuk diajak berdiskusi sehari-hari. "kenapa kok wajah kamu kusut begitu?" tanya dia. " Saya tadi habis menghadap dosen pembimbing, dan ternyata tulisan saya masih jelek!" jawabku lirih. " ohh, begitu ya, jadi nggak bisa ikut wisuda bulan depan donk !" seru darmawan, " udahlah, masih ada wisuda berikutnya, jangan terlalu dipikirkan… lebih baik kamu menyegarkan pikiranmu dulu sekarang" lanjut dia. "mungkin kamu bisa berekreasi dulu, cari suasana baru… barang seminggu atau dua minggu, setelah pikiranmu fresh, baru lanjutkanlah tugas akhirmu…!! " demikian saran yang dia sampaikan padaku. bla bla bla… kamipun bercakap-cakap lama, nasehat-nasehatnya tentang cara menghadapi masalah sedikit-banyak bisa membuatku bangkit sejenak dari kepenatan yang ada.
Yahhhhh, berlibur. kuputuskan untuk berlibur saja dahulu, kemana yaaa…?! oh, yah, di Jogya ada adikku, dia kuliah di Universitas terkemuka disana. Ke jogya saja, ongkosnya tak terlalu mahal, dan banyak objek wisata yang bisa dikunjungi, gumamku!!.
Hari itu juga aku pulang ke rumah, dan berkemas untuk perjalanan wisata sederhana, dalam rangka melarikan diri dari rasa penat dan pusing di rutinitas kota Bandung. Ibuku yg baru pulang mengajar heran, kenapa aku berkemas baju. dia bertanya mau kemana???. Aku mau mengunjungi adik di jogya jawabku. Kok begitu tiba-tiba, bagaimana kuliahmu??? beliau kembali bertanya. Aku jelaskan padanya bahwa ada sedikit masalah dalam penyelesaian tugas akhirku, dan sepertinya janjiku untuk lulus bulan depan tak bisa kutepati. mungkin di wisuda berikutnya aku baru bisa diwisuda. Syukurlah ibuku bisa mengerti keadaanku, dan mengizinkan aku untuk bepergian ke kota jogya.
Sore telah tiba, Ayahku yang baru pulang dari kerja juga menanyakan hal yang sama dengan apa yg ibuku tanyakan tadi. Beliau lalu menyampaikan sepatah-dua patah kata wejangan untuk jangan membiasakan diri lari dari permasalahan yang ada. "Jadi kapan berangkat, dan mau naik apa??" tanya ayah sambil mengeluarkan selembar uang 100rb dan diberikannya padaku. " Malam ini pak, mau naik kereta ekonomi saja di kiara condong!" jawab aku.
Malamnya, setelah selesai makan malam bersama ayah-ibu, aku pamit untuk berangkat. Jarak rumahku ke stasiun kereta api lumayan jauh, tapi bisa dijangkau dengan sekali naik Angkot. sepanjang perjalanan angkot aku bergumam, mudah-mudahan aku bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada… semoga juga jogya bisa menghibur kesedihan diri, Pokoknya aku harus bersenang-senang di sana!!! eitss.. kiri mang.. Kircon kiriii
Stasiun kereta nampak agak lenggang, maklumlah, saat itu bukan musim liburan, dan hari selasa lagi… wajar kalau orang-orang jarang yang bepergian keluar kota. Sesampainya di Peron aku pesan tiket kereta kelas ekonomi jurusan Lempuyangan. Kahuripan, yah.. nama keretanya, kahuripan… "Pesan yang ada nomor tempat duduknya yah pak!" seruku pada penjaga peron. " Tenang dek, banyak bangku yang kosong kok, adek nanti tinggal pilih aja di dalam!" sahutnya. " Tapi buat jaga-jaga aja pak… tolong minta nomor tempat duduknya ya!", jawabku lagi. " Baiklah.. jadi ongkosnya 27 setengah!", srt srttt kuambil tiket dan uang kembalian dari bapak peron, dan transaksi pun selesai.
Kereta kahuripan, sudah menunggu di jalur rel. Aku langsung masuk menuju gerbong dengan nomor yg tertera di tiket punyaku. gerbong 1 nomor tempat duduk 4B. lho, dengan hati-hati ku lihat lagi nomor di tiket dan tempat duduk yg ada di hadapanku, setelah yakin lalu aku berkata " Maap Pak, ini tempat duduk saya…!!" sela ku pada bapak-bapak yang sedang berselonjor kaki tidur di bangku yang seharusnya jadi tempat dudukku. " O alah mas.. mas.. kayak nggak pernah naik kereta ekonomi aja..!, tuhh di belakang masih banyak yang kosong" serunya dengan nada suara yang tinggi, mungkin dia terganggu karena aku membangunkan tidurnya. HHHHhhhh, masalahku sudah cukup banyak hari ini, daripada ribut-ribut dengannya lebih baik aku mengalah. Dengan perasaan yang amsih dongkol, ku susuri gerbong hingga gerbong yg paling akhir… Disini saja.. kosong, sepi, lebih enak… kataku menghibur diri.
Gerbong terakhir itu memang sepi, hanya ada kira-kira 10 orang, itu pun duduknya terpencar-pencar. Aku memilih tempat duduk yang agak di tengah, di bangku yang benar-benar kosong, depanku bangku kosong, disampingku juga bangku yang kosong… wuihhh serasa gerbong milik sendiri….!! ;p
Sekira pukul 8.00 kereta mulai bergerak.. selamat tinggal bandung, aku akan pergi untuk kembali… percayalah bisikku pelan. perlahan kereta kahuripan merayap di gelapnya malam.
Kaca jendela yang kusam dan retak akibat bekas lemparan batu, tak menghalangi kesyahduan pemandangan malam hari diluar. garis-garis pepohonan dan tiang listrik yang terlewati sedikit menghibur gundah diri. Jam berlalu, sudah pukul 10.00 malam, rasa kantuk mulai mendera. aku pun tidur lelapppp.
Hingga…… Drrrrrrrrrrd, teeeeeettttttttttttt suara kereta bisnis yang lewat kearah barat membangunkanku. Yahhh, beginilah nasib kereta ekonomi, harus mendahulukan kereta yang lebih elite dulu untuk lewat, jadi banyak berhenti di stasiun-stasiun persinggahan. Lalu kulihat jam di HP ku, sudah jam 01.30 pagi, wah… tak terasa, wwuuuuuaaahhh, sambil menguap kuperhatikan disekeliling, kupandangi luar jendela, Kroya… oh, stasiun kroya, berarti aku sudah berada di kawasan jawa tengah. suasana gerbong itu masih tampak sepi, bangku-bangku kosong itu tetap menemaniku. Kereta berhenti agak lama, yah… daripada kesal menunggu mendingan tidur lagi.
Hmmm, ngantuknya !! eh, tiba-tiba terdengar suara langkah rombongan penumpang yang baru naik. wah, semoga mereka tak memilih bangku disampingku..(doaku dalam hati) aku paling males kalo diajak mengobrol sama penumpang lain. Apalagi kalau menggunakan bahasa jawa… mana ngerti!!
Ternyata doaku ditolak, hhhh, yah mungkin Tuhan berkehendak lain, atau aku yg kurang beramal baik??!! (gerutu hati).
Seorang bapak setengah baya yg menggunakan blangkon menepuk bahuku. "permisi dek, bangkunya kosong??" tanya dia ramah. wahh sempat terpikir utk berbuat yang sama dengan bapak tadi yang menghardikku untuk mencari bangku lain. Tapi ngak enak perasaan githu…. nggak sopan, takut kuwalat, nanti malah dapet pengalamat yang tidak menyenangkan di jogya. Akhirnya dengan senyum yang dipaksakan :"oh, iyah pak.. silahkan, bangkunya kosong kok.!" jawabku. " Nggeh, terima kasih !" dia pun duduk di sampingku, ternyata rombongan itu berjumlah 5 orang. di hadapanku duduk dua orang wanita berkebaya. Seorang nenek tua, bersama gadis muda. dan dua orang bapak yang berpeci mengambil bangku kosong di bangku sebelah. Wahhh… kayaknya rombongan tayub.. pikirku.
Jgggjegggg jeggg…. kereta mulai berangkat lagi, Si gadis yang duduk dihadapanku tertunduk terus memandang tangannya. Si nenek tua memandangi wajahku dengan tatapan yang aneh. Ah, menakutkan. kualihkan saja pandanganku ke luar jendela.. Lalu bapak yang duduk disebelahku memulai pembicaraan.. " Mbah…??" katanya kearah si nenek. si nenek mengangguk pelan. wah, nggak ngerti deh… dua orang lelaki yang duduk di bangku sebelahku pun mulai menatap ke arahku. "Hmmm, dek… boleh saya tanya sesuatu!!??" kata si bapak yang berblangkon. "oh, iyah pak, ada apa??" jawabku penasaran. "Adek seorang mahasiwa bukan?!" tanyanya lagi "saya memang seorang mahasiswa, tapi sekarang saya sedang berlibur pak!" seru ku pelan, " wah, sungguh beruntung adek ini!?" beruntung??? Hhh, yah beruntung apanya, yg pasti mah bingung kataku dalam hati, " beruntung kenapa yah pak???!" tanyaku padanya. " begini, adek beruntung bisa mengalami masa kuliah.. tidak seperti kami-kami ini, yang hanya bisa tamat SR saja, malah ibu ini dan cucunya ndak sekolah sama sekali, jadi nggak bisa baca dan tulis". ujar si bapak menjelaskan.
Aku terenyuh dengan penjelasan si bapak tadi. Yah… memang realitas pendidikan di negara kita ini tidak seindah apa yang disebutkan di pembukaan UUD-45… mencerdaskan kehidupan bangsa??? hehhh… ternyata masih ada yang buta aksara, cibirku dalam hati.
"Oh, yah dek, kalau adek tak keberatan. bisakah adek membantu membacakan surat ini?" pinta si bapak, sambil merogoh ke saku bajunya, dan mengeluarkan secarik kertas. Lho, ujarku "kenapa pak, apakah bapak tidak bisa membacanya?!" tanyaku.. " oh, tidak, cuma untuk meyakinkan saja tentang isinya, karena malam terlalu gelap, mata bapak sudah tak kentara lagi, tolong bacakan sebentar, isinya sangat penting bagi kami!" kata si bapak.. "Oh, mari pak biar saya bacakan isinya"… karena kasihan, mungkin isinya adalah alamat suatu tempat yang mereka tuju..
Karena suasana gerbong yang gelap, kugunakan lampu di HP ku untuk menerangi kertas itu. ternyata tulisan di kertas itu adalah tulisan tangan dengan huruf bersambung, dan berbahasa jawa lagi….. wahhhh payahhh nih, tapi kubaca juga isi surat itu dengan terbata-bata…
Selesai membaca surat, si bapak bertanya, "benarkah yang kau baca itu??!", karena malas membaca ulang lagi, akupun menjawab betul pak. Lalu si bapak menoleh ke arah bangku sebelah, dan dua orang bapak berpeci itu menganggukkan kepala sambil mengucapkan kata-kata "Sah.. Sah.."
——->>>> flash back
sekarang aku tahu isi surat itu berbunyi kurang lebih sbb: "Saya terima nikahnya Nemu binti Jamikarsih dengan maskawin mengajarkan membaca dan menulis"
——->>>>> back to the story
Si bapak pun kemudian mengangkat kedua tangannya mengucap doa-doa dengan diamini kedua bapak yang berpeci, aku melongo heran. Belum habis heran itu, bapak berblangkon itu, menyalami aku, lalu menaruh telapak tanganku di atas tangan sang gadis. Aku yang terkejut dan langsung menarik tanganku, setelah itu si bapak mengucapkan terima kasih dan mengambil kembali carik kertas yang baru kubacakan. Tak terasa laju kereta menjadi pelan, di benakku masih tertumpuk heran, ada apa gerangan?. Ternyata tak lama setelah itu, di sebuah stasiun kecil yang kulupa namanya, kereta berhenti. Lalu rombongan itu berdiri kecuali si gadis, untuk bersiap-siap turun.
bersambung………
Uncategorized | Comments (5)Nasehat Selembar Papan
Kalau kau ingin jadi pemimpin
Sanggupkah engkau menjadi ayah
Bertanggung jawab kepada mereka?
Kalau engkau suka menjadi pemimpin
Sanggupkah engkau menjadi Ibu tempat bermanja-manja?
Jika engkau hendak menjadi pemimpin
Sanggupkah engkau menjadi guru kepada mereka?
dapat memberikan didikan dan ilmu
Jika engkau ingin menjadi pemimpin
sanggupkah engkau menjadi kawan yang setia?
kapan saja dapat memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka?
…………
(dari sebuah bulletin yang tertempel di papan pengumuman lt. dasar perpustakaan pusat)
Uncategorized | Comment (0)Everytime you are Near
Sesuatu yang istimewa kurasa
Setiap kau jauh.
Ada buih yang mengangkasa,
selaksa jumlahnya…
Kuhitung satu persatu,
sambil mencoba melukis bayangan sesuatu.
Sepertinya aku dekat denganmu, ternyata tak nyana.
Sepi dunia……, hanya ada aku, motorku dan langit berdebu.
(perempatan kopo-by pass, agustus 2005)
Curhat_aja | Comments (3)Verb of Affection
Bunga yang ada dihatimu,
tidak mungkin kudapatkan.
keindahan dan kesempurnaannya,
hanya dapat kulihat. (the CAT)
we can make it if we try,
we believe in you and i. (Alda - Code red)
Sahabat, apa kabarmu!?
lama sudah kita tidak bertemu…
Sahabat, tahu kah kamu??
Aku kini terbelenggu! (Apeja)
Hari-hari melelahkan.
tanpa kehadiranmu…
Tidak pernah terpikir, untuk meninggalkan dirimu.
Maaf, maafkan diriku… yang telah membuat hatimu terluka (Rio F.)
Adik sepupu saya nggak lulus SPMB… :((
Urusan dengan Bank Mandiri serta notaris berbelit-belit.
tidak menghadiri pernikahan teman…!
hiks…. hiks……
Tesis terbengkalai, padahal waktu sudah mepet banget.
HIDUP… PERSIBBBBBBBBBB
Uncategorized | Comment (1)