Windy Ku
kau adalah belahan jiwa
kutahu itu sayang sedari dulu
kau cinta yang hembuskan aku
surga dunia disepanjang nafasku
kau adalah belahan jiwa
aku cinta kamu sedari dulu
dan aku takkan berpaling darimu
sayangku hanya kamu
(taken from : sedari dulu-tompi)
Uncategorized | Comment (1)Sapi kah?
Kandang, bahkan bukan sarang. Melainkan kumpulan benang mahoni.
Lumpang, berisi garam. Tumpah bergerus ubin melanin.
Kupang, 4 jam perjalanan. Halaman kantor gubernuran.
Simpang, dekat bundaran-K. membeli ubi dan kacang.
Gerang, singgasana raja tripang. Tepi pasir cisolok.
Gagang, pernah terpasang. Sekarang hilang.
Tandang, persib kalah persija menang.
Sapi, apakah binatang. Hanya daging bertulang.
(adam_2008)
Curhat_aja | Comment (0)Semua Sama
Dalam gelapku, lamban terpikir
Mengapakah semua tampak samar-samar
Apakah aku yang salah kamar?
Ataukah Bumi sudah terjungkir
Halo Manusia, kita semua sama
mau Obama, mau Osama
sama-sama punya papa mama
sama-sama punya dogma, eh dosa
Uncategorized | Comment (1)Belum Terlambat - Padi
Dipangkuan hati titian hidupku
Tak pernah kutau ada sesuatu
Didalam jiwamu membahagiakan dirimu
Betapa kusungguh tak menyadarinya
Apakah cinta yang membahagiakanmu
Sesuatu yang ingin kumiliki
Membayangkan itu akupun mulai mencoba
Mengerti sedikit tentang perasaan itu
Pernah terkaburkan oleh pilu kepedihan
Mungkin aku salah dalam mengartikan itu semua
Belumlah terlambat untuk mengerti
Dan belum terlambat utk menumbuhkan cinta ku
Selama hidup sepanjang usiaku
Tak sekalipun pernah ku menyentuh wujudnya
TITIPAN
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS Rendra).
Uncategorized | Comment (0)Katulampa di hari sabtu
Ketika itu pintu air hanya dibuka satu
Air mengalir deras deras deras
Aku dan seorang teman berdiri di tepi
Mengangankan dunia yang lebih waras.
Editorial MI hari ini-Pilihan sulit cabut subsidi
SETELAH harga minyak mentah dunia nyaris mencapai US$120 per barel,
tekanan terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) semakin
lama semakin meningkat.
Fenomena tidak terkendali ini mau tidak mau menjadi kondisi yang
harus dihadapi. Ini menimbulkan situasi yang mencemaskan dan
menakutkan. Mencemaskan, jika harga minyak terus melewati batas yang
bisa diterima akal sehat. Menakutkan, bila nilai subsidi yang harus
ditanggung negara tidak lagi bisa ditanggung sehingga mengancam
ketahanan fiskal pemerintah.
Pemerintah memang bukannya tidak berbuat apa-apa. Menyesuaikan diri
dengan situasi yang berkembang, asumsi harga minyak mentah telah diubah
dari US$68 per barel dalam APBN 2008, menjadi US$95 per barel dalam
APBN Perubahan. Terutama setelah harga minyak melampaui US$110 per
barel. Pemerintah juga sudah menyatakan akan all out dalam membatasi konsumsi BBM untuk merespons kenaikan harga minyak mentah.
Banyak desakan agar pemerintah tidak ragu lagi untuk menyikapi
kenaikan harga minyak mentah demi mengurangi subsidi yang kian lama
kian membengkak. Banyak pula pandangan agar subsidi yang bernilai
ratusan triliun rupiah itu dialihkan saja untuk mendukung percepatan
pembangunan. Itulah eufemisme atas pernyataan agar pemerintah menaikkan
harga BBM.
Kalkulasinya, bila harga minyak mentah mencapai US$120 per barel,
kemudian bertahan atau meningkat terus hingga akhir tahun, beban
subsidi BBM sedikitnya akan mencapai Rp200 triliun. Siapa bisa menjamin
APBN-P tidak jebol menahan tekanan fiskal itu?
Sejauh ini, belum ada langkah lanjutan dari pemerintah. Beberapa
menteri anggota tim ekonomi kabinet masih mengemukakan optimisme bahwa
proyek-proyek pembangunan akan berjalan sesuai dengan rencana meskipun
kondisi perekonomian dihantui kondisi perekonomian global yang kurang
menggembirakan.
Memang yang dihadapi bukan situasi yang mudah dipecahkan. Juga,
bukan situasi yang timbul murni akibat kesalahan pemerintah. Namun,
tidak berarti para pemimpin boleh berdiam diri tanpa arah kebijakan
yang jelas dan tegas. Sebab, bila itu opsinya, situasi perekonomian
nasional akan berada dalam bahaya. Dan pertaruhannya semakin lama
semakin gawat.
Karena itu, pemerintah harus segera menentukan sikap dan mengambil
langkah yang tepat. Yang tersedia memang pilihan-pilihan sulit. Bila
tidak menaikkan harga BBM, beban subsidi semakin tidak tertahankan. Ini
setali tiga uang dengan memangkas pertumbuhan.
Sebaliknya, bila menaikkan harga BBM, sama artinya memberikan
tambahan beban bagi rakyat. Padahal, daya beli rakyat bukannya semakin
membaik, sebaliknya justru makin memburuk. Dan, ironisnya, pemerintah
pernah berjanji tidak akan menaikkan harga BBM. Terlepas dari dilema
ini, pemerintah dituntut membuat keputusan cepat, tepat, dan bermanfaat
bagi sebagian besar rakyat.
Bagi para pemimpin, adalah bijak belajar dari kesalahan masa lalu.
Menjanjikan sesuatu yang faktor penentunya lebih banyak dipengaruhi
dimensi eksternal tidak boleh lagi dilakukan. Begitu pun, seluruh
kalangan kelak harus menerima apa pun keputusan pemerintah dengan
lapang dada. Sekalipun itu terasa sangat pahit.
Tricycle
.
.
.
.
.
tricycle tricycle tricycle
I want to ride my tricycle tricycle tricycle
I want to ride my tricycle
I want to ride my trike
I want to ride my tricycle
I want to ride it where I like
You say black I say white
You say bark I say bite
You say shark I say hey man
Jaws was never my scene
And I don’t like Star Wars
You say Rolls I say Royce
You say God give me a choice
You say Lord I say Alloh
I don’t believe in Peter Pan
Frankenstein or Superman
All I wanna do is
tricycle tricycle tricycle
I want to ride my tricycle tricycle tricycle
I want to ride my tricycle
I want to ride my trike
I want to ride my tricycle
I want to ride my -
tricycle races are coming your way
So forget all your duties oh yeah
Fat bottomed girls
They’ll be riding today
So look out for those beauties oh yeah
On your marks, get set, go!
tricycle race tricycle race tricycle race
tricycle tricycle tricycle
I want to ride my tricycle
Seperti Aminoto Idrus
Senyum seperti itu,
senyum tulus, tak minta dibalas,
mungkin dia tidak seberuntung Hasan,
tak seberingas widyo nugroho,
masa lalu yang keras sudah menempanya.
guratan asam urat di kaki dan lengannya
pertanda usia tak muda lagi
tapi, senyumannya selalu tulus untuk semua pihak.
Current Affairs | Comment (1)Teman Menikah, Aku tak bisa datang
Semoga mahligai rumah tangga Sang putra sulung dan putri bungsu ini selalu
dalam limpahan rahmat dan barokah dari Alloh SWT.
Selamat menempuh hidup
baru buat Kamerad Fachry-uca dan Nenny K. Rachman.
Berakit-rakit ke
huma,
Berenang-renang di tepian.
Bersakit-sakit di malam
pertama,
Nikmatnya datang kemudian.
salam,
Ramdhan